Novel Matahari Merah Bulan Mei
Posted by penerbitmajumbojo on May 6, 2008
Judul : Matahari Merah Bulan Mei
Penulis : Ali Akbar
Kata Penutup : Maman S. Mahayana
Penerbit : Penerbit Maju Mbojo
249 + vi halaman, Cetakan Pertama Mei 2008
ISBN 978-979-17816-0-2
SINOPSIS
Andreans terdiam, mukanya pucat, dan gerahamnya bergerak sendiri karena ketakutan. Itu akibat pernyataan sikap organisasinya yang dibacakan oleh sembilan orang pimpinan pada tanggal 22 Januari 1998. Tuntutannya jelas: Soeharto mundur! Meminta Presiden Soeharto mundur adalah tindakan bunuh diri. Sudah banyak aktivis yang ditangkap, dipenjarakan, atau hilang. Esoknya, ia dan pimpinan organisasi mahasiswa bertekat bulat: tidak ada kata mundur. Reformasi atau mati!
Mulailah mahasiswa menghimpun massa dan mengajak demonstrasi turun ke jalan. Aksi ini tentu saja di bawah bayang-bayang skorsing dan ancaman drop out dari pihak kampus. Tapi, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang!
Untuk memperbesar jumlah massa dirancanglah aksi bersama antara UNAS, ISTN, Universitas Pancasila, IISIP, UI, Univesitas Jayabaya, dan Universitas Gunadarma. Bentrokan di Universitas Gunadarma tidak terhindarkan saat aksi gabungan dilakukan di Jalan Akses UI. Pentungan aparat dan gas air mata membuat kocar-kacir demonstran dan meninggalkan luka yang tidak sedikit.
Namun aksi mahasiswa terus membesar karena kehidupan rakyat semakin sulit. Yeni seorang dara dari Indramayu rela meninggalkan kampung halamannya untuk tinggal di penampungan TKW di Bekasi. Selama menunggu pemberangkatan yang tak pasti, ia dipaksa oleh perusahaan penampungnya untuk menjadi seorang wanita penjaja di warung remang-remang di Ujung Aspal. Saepul, serang petani pengarap mencoba mencari peruntungan di Jakarta dan menunggu di depan Taman Makam Pahlawan Kalibata sebagai tukang cangkul. Ia setengah berharap agar ada proyek yang berjalan atau setidaknya ada yang minta dibuatkan lubang septiktank. Marno, seorang terpidana mati yang lari dari penjara militer di Kelapa Dua Depok harus menjadi pembunuh bayaran untuk menyambung hidup. Mpok, seorang pembantu rumah tangga dengan membuang rasa malu meminjam uang ke majikannya untuk membeli gerobak untuk Husin—anaknya yang menjadi kuli angkut sayuran di Pasar Minggu.
Demonstrasi mahasiswa tanggal 2 Mei 1998 merupakan aksi dengan jumlah massa yang sangat besar. Begitu pula di Kampus UI Salemba yang kedatangan mahasiswa dari ABA ABI, IAIN, IKIP, IKJ, YAI, dan lainnya. Pada tanggal 12 Mei 1998 terjadi pertumpahan darah saat aksi mahasiswa Universitas Trisakti ditanggapi dengan hamburan peluru oleh aparat… dan korban pun jatuh. Peristiwa itu berbuntut pada kemarahan, kerusuhan, dan pembakaran. Demi bakti pada ibunya, tanggal 14 Mei 1998 Husin nekat ikut menjarah mall meski harus beradu nyawa. Andeans pun shock saat mengetahui Mei, mahasiswi keturunan Cina yang didambanya, bajunya terkoyak-koyak. Demonstran mulai menduduki Gedung MPR/DPR. Beberapa tokoh, semisal Amien Rais dan Sultan Hamengku Buwono X turut meneriakkan reformasi. Demonstrasi mencapai puncaknya saat Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 menyatakan berhenti.
Bagaimana nasib Andreans dan sembilan rekannya pasca-reformasi? Bertahun-tahun kemudian, masihkah mereka setia pada cita-cita reformasi total yang mereka usung? Bagaimana nasib penyelesaian kasus-kasus 13–15 Mei 1998? Bagaimana nasib tokoh-tokoh seperti Marno, Yeni, Mpok, dan lainnya? Dapatkah mereka keluar dari krisis ekonomi yang dapat meruntuhkan moral mereka?
Untuk informasi lebih lanjut, click link di bawah ini:
info-novel-matahari-merah-bulan-mei.pdf
Novel ini sudah bisa diperoleh di:
Gramedia
MP Book Point
Toko Buku Online (www.inibuku.com)
